Senin, 18 Desember 2017

Cinta, Harapan, dan Kekecewaan

. Cinta. Yah semuanya terasa indah saat dia yang kamu cinta, juga mencintaimu. Dia yang kamu perjuangankan juga memperjuangkanmu. Bahagia bukan? Jelas, ini adalah nikmat Tuhan yang sangat indah. Tapi pernah kau berpikir bagaimana rasanya mencintai tapi dia dia tidak mencintaimu? Berjuang tapi dia tidak memperjuangkanmu. Sakit,  sangat sakit. Ini adalah ceritaku dengan Dia.

Haah, Dia yang awalnya ku perjuangkan, dan ku cinta memberiku pengalaman dan pelajaran bahwa tidak selamanya perbuatan baikku di balas dengan baik pula.

Dia memberi ku harapan, bahwa dia juga mencintaiku. Tapi, kenyataannya dia mematahkan harapan itu sendiri.

Saat ku putuskan untuk berjuang untuknya, dia sama sekali tidak menghargaiku, mengacuhkanku. Sakit, bahkan sakit apa yang kamu kira. Tapi saya bisa apa? Dia terlanjur ku cinta.

Lelah, yah sayapun lelah berharap dalam setiap doaku, berharap dia akan mencintaiku pula, tapi nyata tidak, aku bahkan tidak berarti apa2 untuknya.

Saat ku putuskan ku berhenti, dia tiba2 datang lalu mencoba memaksa ku untuk berjuang kembali. Aneh bukan? Kamu yang memaksa ku berhenti lalu memaksa ku lagi untuk memulai?

Tidak!! Aku lelah, lelah berharap padamu. Aku pun tidak ingin berhenti sampai disni tapi aku juga tidak bisa menyiksa diriku lebih dalam lagi. Bilapun pada akhirnya kamu merindukanku jangan katakan padaku, karena aku tidak akan peduli. Bukan cinta sudah habis, tapi saat ini aku lebih memakai logika daripada perasaanku, aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri.

Tetaplah menjauh, agar aku bisa menjalani hidupku. Selamat Tinggal!!

Rabu, 13 Desember 2017

Kamu; Cinta, Harapan, dan Kepasrahan

Semua ini dimulai saat aku masih kelas 3 SMA, dimana aku masih berpacaran dengan Ahmad, lelaki yang sudah bersamaku sedari kelas 2 SMA. Ahmad adalah pria yang baik, dan setia kepadaku. Yah, dia juga mantanku, kami memang berpacaran saat kami kelas 1 SMA, namun aku lupa karena apa kami putus dahulu. Barulah saat kelas 2 dia mengajakku balikan. Dan hubungan kami bertahan sampai kelas berikutnya.

Saat itu, aku mengenal seorang laki2, yah hanya sebatas teman di media sosialku, namanya Rahman. Awalnya hanya sebatas teman chatingan biasa sampai akhirnya aku jatuh cinta padanya, tepatnya pada keimanannya, bagaimana tidak, saat ini jarang sekali ku temukan laki2 yang sangat menjaga ibadah dan keimanannya. Siapa yang tak kagum?

Seiring berjalannya waktu, Aku dan Rahman semakin dekat, sampai akhirnya Ahmad marah karena kedekatan kami, Ahmad marah pula pada Rahman, sampai Rahman menjauh dariku, bahkan dia memblokirku di media sosialnya. Yah, sakit sekali tapi ada Ilham yang harus ku jaga perasaannya.

Tak terasa 2 bulan, aku dan Rahman lostcontack dan perlahan perasaanku pada Rahman pun pudar sampai suatu hari Rahman kembali mengajakku berteman di BBM, haaah betapa bahagianya diriku 😂 kami pun kembali dekat bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Aku pun semakin kagum terhadapnya. Dia juga kadang membantuku mengerjakan tugas2ku Bahkan, suatu hari dia mengirimku voicenote surah Ar-Rahman dan lagu Akad, bisa bayangkan bagaimana perasaanku?

Aku dan Rahman memang punya banyak kesamaan, contoh kecilnya kami sama2 suka anak kecil dan sama2 pencinta kucing. Itu semakin membuatku jatuh hati dengannya.

Ilham,  apa kabar dengan Ilham? Yah, entah karena apa aku putus dengannya. Hal ini membuat aku dan Rahman semakin dekat lagi.

Sampai suatu hari, aku tak sengaja chatingan dengan Kak Dika kakanya Rahman

"Kalian punya hubungan apa? "Tanyanya
"Tidak, kami hanya berteman"Jawabku
"Rahman sering bercerita tentang kamu di kakaku yang lain"
"Ah, serius kak? Tanyaku dengan kaget
"Iyya"Jawabnya ringkas

2 hari kemudian
Kak Dika berkata padaku kalau Rahman sebenarnya sudah punya pacar. Jujur ini membuat ku sakit hati, bagaimana tidak sebelumnya Rahman sangat manis kepadaku, dan bahkan Rahman sendiri tidak pernah berkata ia punya pacar, dan bahkan tidak pernah pacaran.

Sampai akhirnya ku beranikan diri untuk bertanya pada Rahman. Dan akhirnya diapun mengaku. Haaah, sakit sangat sakit, mulai saat itu aku mulai menjauh darinya. Chatnya ku abaikan begitu saja. Sampai suatu saat, mungkin dia juga sudah lelah merayuku dan aku tetap tidak ingin tahu lagi tentang dia.

Yah sakit hatiku masih terasa, namun ku coba untuk menata kembali hidupku. Ku jalani hidupku seperti biasa, dan Rahman pun masih terus menghubungiku dan aku tetap saja mengabaikan dia.

Aku terus memperbaiki diriku, dan menata kehidupanku, aku mulai sadar ini semua karena kesalahan ku yang terlalu berharap pada ciptaan-Nya. Sekarang mulai ku tanamkan dalam hatiku, kalau pun ia jodohku, ia akan kembali padaku.

Aku terus memperbaiki dan memantaskan diriku, karena ku tau dia memang pria yang ilmu agamanya diatas dariku. Tak terasa, aku mulai menjalani hidupku seperti biasanya. Tiba2 Rahman datang kembali, namun kali ini perasaanku tidak seperti dulu lagi, aku tidak berharap lebih lagi darinya. Aku tidak bersikap manis lagi padanya, dan saat ia mulai bersikap manis padaku, lansung ku katakan, "stop, jangan membuatku baper"

Entah akan berakhir seperti apa nanti Aku dan Rahman. Aku berharap yang terbaik akan datang di waktu yang tepat.

Note• Cerita ini berasal dari seorang wanita kuat yang ku kenal tapi tidak akan ku sebutkan namanya. Selamat Penasaran 😂

Aroma; Rindu, Cinta, dan Kebencian

. Haah, sudah lama rasanya tidak menulis kembali, sepertinya sudah 2 hari 😂😂 Entah harus ku mulai dari mana dulu lagi 😆 saya bingung. Ikuti saja jari mungilku ini akan mengetik seperti apa nantinya 😂

Cinta, Rindu, sepertinya satu paket yang tak bisa di pisahkan. Mereka berdua layaknya gula dan kopi. Yah, Kopi. Tahu kopi bukan? Manis diawal tapi pahit di akhir. Seperti itulah Cinta dan Rindu. Kamu tetap saja mencintainya meski pada akhirnya mungkin cinta itupula menyakiti kamu. Kamu tetap pula merindukannya, yang kadang rindu itu membuatmu gila.

Benci, yah. Benci memang sebuah perasaan pula, perasaan dimana kamu sama skali tidak menyukainya. Tapi pernahkah kamu membenci seseorang yang awalnya begitu kamu cintai? Saya yakin pernah. Bagaimana rasanya? Sakit bukan? Sakit ketika kamu memaksa hatimu untuk membencinya yang pada awalnya kamu begitu mencintainya, begitu mengharapkannya, yang kamu tau dia itu segala sesuatu yang indah. Tapi pernahkah kamu berpikir bagaimana perasaan itu berubah? Perasaan yang memang nyatanya berbeda 180• yah, jelas 180•

Rindu, cinta, dan kebencian memang sangatlah berbeda, tapi bukan berarti mereka tak sama. Rindu itu menyiksa, Cinta juga kadang menyiksa, sedangkan membenci sudah pasti sangat menyiksa. Sudah jelas bukan? Tapi pikirkan sejenak, kamu yang awalnya tidak mengenal dia, tidak tau tentang dia, kenapa bisa mencintainya? Kamu yang awalnya tidak merindukan dia, kenapa bisa merindukannya? Ini semua hanya persoalan hati yang terlalu banyak berharap. Kamu berharap cerita cintamu terus saja manis, kamu yang berharap rindu terbalaskan, tapi pada nyatanya tidak!! Saat itulah semua cinta dan rindu berubah menjadi kebencian. Tapi, pikirkan kembali. Kenapa kamu harus membencinya? Kenapa kamu menyalahkannya? Pikirkan, ini bukan kesalahan siapa2, ini terletak pada hatimu!! Seperti yang ku jelaskan dari tadi, ini karena hatimu yang terlalu banyak berharap. Tidak usah membenci, tidak usah menyalahkan, karena pada awalnya kamu sama sekali tidak membutuhkannya, sama sekali tidak mengenalnya. Ikhlaskan, karena pada dasarnya tidak ada perasaan yang bertahan lama dan semua orang akan berubah cepat atau lambat.

Iya, saya yakin ini berat. Tapi ini hanya tentang masalah waktu, kamu pun pada akhirnya akan biasa2 saja, kunci utamanya IKHLAS jangan membenci siapa2, jangan menyalahkan siapa2.

Pada akhirnya kamu pun akan menemukan Dia yang kamu inginkan. 💕

Minggu, 10 Desember 2017

Diujung R a s a 💔

. Bolehkah ku tanya kabarmu? Sepertinya tidak perlu, karena ku yakin kamu baik2 saja. Masih ingat kah kamu dengan cerita kita? Ku yakin tidak, mau ku ajak bernostalgia? Mau ku ajak mengingat semua cerita kita? Mau ku ajak mengingat semua janjimu dahulu? Marilah, datang kepadaku dan ku ceritakan kembali semuanya. Aku masih ingat betul detik demi detik setiap cerita kita, cerita yang ku nikmati begitu dalam. Tapi kali ini tidak akan ku ceritakan secara detail, tidak akan ku sebutkan setiap tanggal, bulan, dan tahunnya meskipun masih ingat semuanya dengan jelas dan bahkan akan sulit untuk ku lupakan

Kamu, masih ingatkah dengan awal dari cerita kita? Ku yakin tidak, mari ku ceritakan. Dulu kamu datang dengan segala harapan yang ada, harapan yang sampai sekarang masih ada dalam pikiranku. Yah, kamu berusaha dengan kuat untuk meyakinkanku, meyakinkanku bahwa kamu tidak sama dengan sebelumnya, jelas saja kamu tidak ku percaya namun, entah kenapa pada akhirnya kamu berhasil membuatku yakin and finally saya jatuh dalam pelukanmu.

Sudah ingat? Haah, sepertinya kamu mulai ingat bukan? Masihkah ingin ku teruskan? Kamu boleh berhenti sampai disini, tapi aku tetap akan mengajakmu bernostalgia.

Sehari, Dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan.
Terasa sangat cepat, kamu tetap saja ada di sampingku, yah kamu memang pribadi yang baik, sopan, dan penuh perhatian. Dan aku semakin larut dalam perasaan ini, padahal ku tau ini akan sangat menyakitkan nantinya.

Bagaimana? Semuanya yang ku tulis ini benar bukan? Kamu pasti mulai mengingat, terutama mulailah mengingat janji dan kata2mu waktu itu. Mari ku teruskan cerita ini

Dua bulan
Kamu adalah pria yang pekerja keras, kamu sibuk, bahkan sangat sibuk. Lambat laun kamu berubah, entah karena apa. Ku beranikan diriku untuk bertanya, tapi apa kamu malah seakan ingin menyerah denganku. Tidak, tidak semudah ini. Kamu pikir hatiku kuat? Tidak!!! Saya butuh kamu!!  Tapi apa? Kamu nyatanya ingin menyerah denganku. Ingatkah kamu dulu semua perkataanmu? Sepertinya kamu lupa atau bahkan pura2 lupa!! 

Tidak!! Aku tidak ingin orang lain, yang ku mau hanya kamu!! Kamu!!  Kamu!!  Tapi apa? Tidak bisakah kamu tetap berada disampingku? Inikah ujung dari rasamu?

Sabtu, 09 Desember 2017

My Life, My Choice

. Apa kabar? Baik saja bukan 😊 Ku harap seperti itu. Kali ini biarlah ku ceritakan sebuah cerita (haha jelas cerita) cerita yang tidak ku tau akan berjalan seperti apa dan berakhir seperti apa pula, semuanya hanya tergantung dari ketikan jari mungilku ini 😂 Ok, let's start the story.

Pernah kah kalian berada dalam sebuah keputusan yang sulit? Keputusan dimana hati dan pikiranmu itu tak sejalan sama skali? Yah, pasti sangat melelahkan, itulah yang ku rasakan saat ini. Entah apa yang terjadi.

Hidup memang tak selalunya berjalan mulus, ada saja sesuatu yang datang tak terduga, seperti cintanya 😂(Apasih) ini dimulai setahun yang lalu, tepatnya Juni 2015 dimana aku mengenal seorang wanita muslimah yang cukup membuatku kagum, namun, tidak akan ku sebutkan namanya. Jangan tanya kenapa, karna percuma aku tidak akan memberitahukan alasannya 😂 Dia wanita sholehah yang ku kenal, wanita yang menjadi inspirasiku, tempat curhatku, dan tempat bertengkarku pula.

Seiring berjalannya waktu, dia memberiku banyak sekali motivasi, banyak sekali inspirasi, dan tentu saja ilmu yang banyak pula, terlebih dengan ilmu agama. Yah, dia memang religius. Dan karna dia pulalah aku memutuskan untuk menentukan pilihan yang cukup besar, namun, tak akan ku sebutkan pilihan apa itu. 😂 selamat penasaran 😆

5 Juni 2015
Awal dari semua pilihan itu, aku bahagia, tenang, bahkan sangat ikhlas menjalani sebuah keputusan yang telah ku ambil sebelumnya. Tenang, damai, itulah yang ku rasakan. Wanita itu tetap ada di sampingku terus menyemangatiku dengan segala macam nasehatnya.

Waktu terus berlalu, tak terasa hampir setahun. Namun, aku mulai goyah, aku mulai risih dengan semuanya. Entah karna apa dan kenapa. Aku seperti ingin lari, dan melepaskan pilihan ini. Namun, wanita itu tetap menjadi inspirasiku untuk tetap teguh pada pilihan ini

Desember 2016

Aku lelah, lelah berpura2 baik di hadapan semua orang. Di pikiran orang2 aku ini manusia baik, tapi tidak. Aku ini hanya manusia yang pandai bersembunyi layaknya seorang yang munafik. Akhirnya ku putuskan untuk melepaskan pilihan itu. Yah, saya tahu akan banyak sekali orang yang berkomentar tentang ini, tapi andai kalian tahu, semua yang terjadi memiliki alasan dan tidak semua alasan itu harus ku jelaskan.

Inilah aku yang baru, aku yang sekarang. Hidup memang tak bisa di pastikan, semua dapat berubah. Tolong, hargai apa yang telah ku putuskan.

Layaknya sebuah kopi dan gula. Aku ibarat gula dan pilihanku kopi. Kopi tidak pernah salah, saat kamu menyajikan kopi yang terlalu manis, gula yang akan kamu salahkan, saat kamu menyajikan kopi yang pahit, kamu pun akan menyalahkan gula. Seperti itulah semuanya. (!)